Karakteristik Suami Sholih

0
16

Karakteristik Suami Sholih

 

Hubungan pernikahan merupakan bentuk ikatan paling kuat dan sakral dalam kehidupan manusia. Sebab, darinya akan lahir keluarga, lalu membentuk masyarakat dan dari masyarakat tersebut membentuk sebuah negara. Islam juga berupaya keras mengantarkan setiap keluarga untuk mencapai derajat tinggi dalam aspek akhlaq, kebersamaan, keharmonisan hidup, perasaan saling mencintai diantara keluarga serta menjaga kemuliaannya. Sebab, Islam memandang keluarga sebagai unsur utama terbentuknya sebuah masyarakat. Jika sebuah masyarakat itu baik, maka negara juga akan baik, begitupun sebaliknya.

Islam juga telah meletakkan dasar-dasar serta prinsip-prinsip yang jelas dalam memilih calon suami.

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (An-Nûr: 26).

Bilamana ‘kepemimpinan’ suami tidak didasarkan pada nilai-nilai agama dan ketakwaan, sangat mungkin istri akan merugi baik pada sisi dunia maupun akhiratnya. Maka, setelah mengasuh dan mendidik anak dengan baik, tugas para ayah adalah memilihkan calon suami bagi anak gadisnya secara selektif untuk kemudian menyerahkannya kepada lelaki yang memiliki qawamah, yaitu kemampuan untuk memimpin dalam rumah tangganya.

Ketika ada seorang pemuda yang ingin melamar salah satu putrinya, seorang ayah mendatangi  Al-Hasan lantas bertanya “Dengan siapa aku harus menikahkannya?” Al-Hasan menjawab, “Dengan orang yang bertakwa kepada Allah. Sebab jika ia mencintainya, ia akan memuliakannya. Adapun bila ia tidak menyukainya maka ia akan menghormatinya dan tidak akan menzaliminya.”

Asma’ dan Aisyah putri Abu Bakar As-Shiddiq h mengingatkan, “Pernikahan itu ibarat perbudakan, maka hendaklah setiap kalian melihat kepada siapa akan menyerahkan anak perempuannya.”

 

Qowwam-nya Suami

Islam lebih mengedepankan aspek pemahaman agama (dien) sebagai syarat utama dalam membangun sebuah keluarga yang baik, kokoh dan bahagia, meskipun tentu saja aspek fisik seperti kecantikan atau ketampanan juga penting dipertimbangkan. Sebab, dengannya dalam batas tertentu akan membantu pasangannya lebih mampu menghadirkan kenyamanan dan menjaga diri. Seorang suami sholih yang berakhlaq dan memiliki pemahaman agama yang baik seharusnya juga memiliki qowamah.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka… “ (An-Nisa’ : 34)

 

Ar-Ri’ayah

Lelaki itu memang diciptakan Allah memiliki kelebihan, karena ia desain-nya sebagai qowwamuuna alannisa’, sering dimaknai sebagai pemimpin bagi kaum wanita, yang acapkali dianggap sebagai makhluk yang lemah. Tapi benarkah?  Bukankah pada saat suaminya tidak sedang di rumah, seorang istri mampu menyelesaikan semua pekerjaan di rumah dengan sangat baik. Mulai dari membersihkan rumah, mengepel, memasak, mencuci baju dan menyetrika. Termasuk mengangkat air galon, tabung gas, terkadang bahkan membetulkan genteng yang melorot, kabel yang mengelupas, dst. Pekerjaan yang lazim dilakukan suaminya pun diambil alih ketika suaminya tidak sedang di rumah. Belum lagi mengajari anak untuk mengerjakan PR layaknya guru privat, bahkan mengurusi anak yang sedang sakit layaknya seorang dokter atau perawat. Itupun terkadang masih dalam keadaan sedang hamil atau mengandung anak di perutnya.

Namun begitu suaminya pulang ke rumah, ia tiba-tiba serasa menjadi lemah tak berdaya. Sehingga keluarlah kalimat perintah, “Mas, tolong bantu ini dan itu?.” (padahal sebelumnya ia terbiasa mengerjakannya sendiri). Kenapa demikian? Karena seorang qowwam itu dituntut ‘ar-riayah’, mampu memberikan support, dukungan dan perhatian kepada istri. Sekedar kalimat, “Dik, terima kasih ya.. kamu sudah lakukan itu semuanya untuk cinta kita…” Itu cukup membuat hatinya melambung. Apalagi sembari membisikkan kalimat, “Cincin kamu sepertinya sudah ga muat ya, besok ganti yang lebih berat gram-nya ya!!! Agar tambah berat cinta kita.”

Hari ini banyak wanita hebat di awal pernikahan, tiba-tiba menjadi rapuh karena minim mendapatkan perhatian suaminya. Apalagi sama sekali sang suami tidak menunjukkan sikap terima kasih, sementara ia dituntut untuk selalu ‘mensyukuri’ suami.

Seorang suami yang mampu menghadirkan ‘perhatian’ dengan kadar yang cukup tidak saja qowwam, tetapi ia juga termasuk bisa menjaga amanah dari Robb-nya. Dari Jabir a ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda,

فَاتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُم أَخَذتُمُوهُنَّ بِأَمَانَةِ اللَّهِ وَاستَحلَلتُم فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ

“Bertakwalah kepada Allah dalam memperlakukan para wanita, karena kalian telah mengambil mereka (sebagai istri) dengan perjanjian Allah dan menghalalkan hubungan suami istri dengan kalimat Allah.” (HR. Muslim)

 

Islah

Hadits mulia di atas mengingatkan para suami terkait pentingnya memperhatikan hak istri untuk menasehati dan mempergaulinya dengan baik. Wajib bagi para suami menjaga amanah dan memeliharanya dengan memperhatikan hak-hak dan kemaslahatannya secara agama maupun dunia.

Para suami harus mengetahui, bahwa karena mereka telah menikahi istri-istri mereka dengan syari’at Allah, maka para istri adalah amanah Allah yang dipikulkan di pundaknya. Karenanya kewajiban mereka untuk menunaikan hak agama, yakni mendidiknya agar bertakwa kepada Allah l. Selain mengajari masalah agama, para suami juga harus memberitahukan kepada istrinya berbagai kewajiban yang harus dilakukannya. Termasuk penjagaan dari perbuatan maksiat, bid’ah, maupun syirik. Ia juga harus mampu menciptakan perdamaian dan kedamaian serta mendatangkan keharmonisan dalam rumah-tangganya.

 

Himayah

Allah k juga memberikan kelebihan para suami himayah, yakni kemampun untuk mengayomi dan memberikan perlindungan baik lahir maupun batin. Perlindungan lahir mencakup menyediakan tempat tinggal yang nyaman, lingkungan yang mendukung amal ketaatan kepada Allah dan kondusif untuk menjaga kehormatan diri. Bahwa mustahil ia akan bisa menemani pasangan hidupnya 24 jam, namun sang istri akan merasa itmi’nan (nyaman) di tengah kehidupan masyarakat yang menjaga nilai-nilai takwa, ditambah lagi jaminan doa dari sang suami kepadanya setiap kali meninggalkannya sendirian di rumah.

أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِي لَا تَضِيعُ وَدَائِعُهُ

“Aku titipkan kamu kepada Allah yang tidak akan tersia-sia apa yang dititipkan kepadaNya.” (HR. Ibnu Majah 2/943 no. 2825, Shahihul Jami’ no. 958).

Begitupun dengan sikap dan tindakannya, hendaklah para suami berusaha menjaga amanah dengan tidak menyakiti mereka, tidak berlaku jelek, berbuat baik kepada mereka serta berinteraksi dan mempergauli dengan cara yang ma’ruf. Begitupun dengan setiap keputusan yang diambilnya, utamanya manakala datang suatu ancaman dari luar ataupun ketika sedang ada masalah yang membelit rumah tangga mereka, hendaknya ia mampu bersikap adil dan menentramkan.

Dalam memberikan perlindungan, suami juga berkewajiban untuk menunaikan hak duniawi istri, berupa kebutuhan fisik. Yakni menafkahi keluarga, menyediakan sandang, pangan dan tempat tinggal yang layak sesuai dengan kemampuannya. Wallahua’lam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini