spot_img
BerandaKajian OASEMENJAGA ADAB TERHADAP GURU ATAU SYAIKH

MENJAGA ADAB TERHADAP GURU ATAU SYAIKH

- Advertisement -spot_img

MENJAGA ADAB TERHADAP GURU ATAU SYAIKH

Banyak para pencari ilmu yang kurang memperhatikan adab adab terhadap guru. Banyak pelajar yang bersungguh-sungguh dalam belajar, namun tidak mendapatkan buah ilmu. Apakah buah ilmu itu? buah ilmu adalah “mengamalkan ilmu” dan “menyebarluaskan ilmu”. Hal tersebut terjadi karena para pelajar itu salah cara dalam menuntut ilmu dan mereka juga meninggalkan syarat-syarat dalam belajar.

Hilanglah keberkahan ilmu. Sulitnya ilmu masuk kedalam hati. Ilmu hanya sebagai konsumsi otak dan berbangga bangga dengannya. Gurupun bukan lagi orang tua yang dihormati dan didengarkan petuahnya. Tetapi hanya sebagai teman dalam belajar.

Ibnu Mubarok berkata, “Barangsiapa yang meremehkan adab-adab, maka ia akan dihukum dengan terhalang dari sunnah-sunnah. Barangsiapa yang meremehkan sunnah-sunnah, maka ia akan dihukum dengan terhalang dari  fardhu-fardhu.  Dan barangsiapa yang meremehkan  fardhu-fardhu, maka  ia akan dihukum dengan terhalang dari ma’rifat (mengenal Allah)”.

Diantara adab dan akhlak terhadap guru adalah;

Pertama; adab dalam bertanya. Hal ini sebagaimana yang disampaikan Imam An-Nawawi : “Hendaknya orang yang ingin bertanya, ia beradab kepada muftinya (seorang ulama yang akan ditanya) dan menghormatinya dalam berbicara dengannya, dan hendaknya dia tidak menuding dengan jarinya kearah muka gurunya. Demikian juga tidak boleh berkata: ‘apa yang kamu hafal tentang masalah ini?’, atau berkata: ‘apa madzab gurumu atau Imam Syafi’i dalam masalah ini?’.

Demikian juga tidak boleh ketika gurumu telah menjawab, kemudian engkau mengatakan: ‘kalau pendapat saya seperti ini’. Atau engkau mengatakan: ‘tetapi ulama ini dan itu menjawab tidak seperti jawabanmu’. Atau engkau mengatakan: ‘jika jawaban engkau seperti ini saya akan tulis jawabanmu jika tidak maka saya tidak akan menulisnya’.

Demikian juga tidak boleh bertanya kepada gurunya dalam keadaan berdiri, berjalan, atau ketika gurunya sedang marah, sedih, setres, atau kondisi yang membuat tidak bisa konsentrasi”. (Adabul Fatwa Wal Mufti Wal Mustafti:83)

Kedua; memanggilnya dengan panggilan yang santun. Misal yang jadi adat atau kebiasaan di negeri kita, memanggil guru tersebut dengan sebutan Pak Guru atau Ustadz. Panggilan ini adalah bentuk panggilan santun pada guru kita.

Allah Ta’ala berfirman;

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).” (QS. An-Nur: 63). Syaikh Bakr Abu Zaid dalam Hilyah Thalib Al-‘Ilmi berkata, “Inilah yang ditunjukkan oleh Allah kepada yang mengajarkan kebaikan pada manusia yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitab Hilyah Thalib Al-‘Ilmi, “Jangan memanggil guru dengan nama atau laqabnya saja. Seperti jika engkau berkata, “Wahai Syaikh Fulan.” Baiknya panggillah dengan “Wahai Syaikhku atau Syaikhuna (Syaikh kami).” Baiknya tidak sebut namanya. Ini lebih beradab. Jangan pula memanggilnya dengan ‘kamu’ atau ‘anta’. Jangan pula memanggil guru tersebut dari jejauhan kecuali kalau darurat.”

Namun kalau mengabarkan kalau gurunya berkata seperti ini dan seperti itu, maka boleh menyebut namanya. Misal, guruku, Syaikh Shalih berkata demikian. Ketika itu menyebut namanya karena bukan dalam keadaan memanggilnya namun cuma pengabaran suatu berita saja. Lihat Syarh Hilyah Thalib Al-‘Ilmi, hlm. 82.

Ketiga; istiqamah dalam menghadiri majlis majlis mereka. jangan merasa bosan dan malas. Karena ilmu itu didapat dengan ketekunan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ

Sesungguhnya ilmu didapatkan dengan belajar dan sesungguhnya hilm (kesabaran dan ketenangan) didapat dengan terus melatih diri. Barangsiapa berusaha untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikannya. Barangsiapa yang berusaha untuk menghindari keburukan, niscaya akan terhindar darinya.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Al-Afrad).

Abul Hasan Al-Karkhi berkata, “Aku punya kebiasaan menghadiri majelis Abu Khazim setiap Jumat. Keesokan harinya di hari Jumat ternyata kosong, namun aku tetap menghadirinya agar tidak mengurangi kebiasaanku untuk menghadiri majelis tersebut.” (Al-Hattsu ‘ala Thalib Al-‘Ilmi karya Al-‘Askari, hlm. 78).

Wahb bin Jarir dari bapaknya, ia berkata, “Aku sudah pernah duduk di majelis Al-Hasan Al-Bashri selama tujuh tahun. Aku tidak pernah absen walau satu hari pun. Aku punya kebiasaan puasa, lalu aku mendatangi majelis beliau.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 6: 362)

Keempat; mendo’akan guru guru dan masyayikh kita dengan do’a do’a secara khusus. Hal ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh para salaf kita diantaranya ;

Al-Harits bin Suraij berkata, aku mendengar Al-Qatthan berkata,

أَنَا أَدْعُو اللهَ لِلشَّافِعِي، أَخُصُّهُ بِهِ

“Aku senatiasa berdo’a pada Allah untuk Imam Syafi’i, aku khususkan do’a untuknya.”

Abu Bakar bin Khalad berkata,

أَنَا أَدْعُو اللهَ فِي دُبُرِ صَلاَتِي لِلشَّافِعِي

“Aku selalu berdo’a pada Allah di akhir shalatku untuk Syafi’i.” (Disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 20).

Setiap kebaikan hendaklah dibalas. Apalagi kebaikan ilmu yang diberikan. Sulit memang membalasnya karena ilmu adalah jasa yang tiada tara. Kalaulah itu sulit, maka balaslah kebaikan tersebut dengan terus mendo’akan orang yang memberikan ilmu. Do’a itu tak henti dipanjatkan sampai kita merasa telah membalasnya. Termasuk pula kita hendaknya selalu mendo’akan para ulama yang punya jasa besar pada Islam.

Ibnu Jama’ah Al-Kanani rahimahullah menyebutkan, “Sebagian ulama terkadang membacakan hadits dengan sanadnya. Mereka lalu mendoakan setiap perawi dalam sanad tersebut. Itulah bentuk kekhususan karena telah diberikan anugerah ilmu yang luar biasa.” (Tadzkir As-Sami’ wa Al-Mutakallim, hlm. 64, Ma’alim fi Thariq Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 208).

Itulah beberapa dab kepada guru guru. Karena dengan tidak beradabnya murid terhadap guru akan mengakibatkan sulitnya murid mendapatkan ilmu dari mereka. semoga Allah memudahkan kita untuk selalu hormat kepada para guru kita.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Stay Connected

3,300FansSuka
158PengikutMengikuti
1,470PelangganBerlangganan

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here