spot_img
BerandaKajian OASEMEWUJUDKAN KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH

MEWUJUDKAN KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH

- Advertisement -spot_img

MEWUJUDKAN KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH

Keluarga yang tentram saling mencintai dan saling meyayangi atau disebut dengan keluarga sakinah mawaddah warahmah adalah dambaan setiap orang. Tetapi usaha untuk mewujudkannya bukanlah hal yang mudah seakan membalikkan kedua tangan. Ditengah arus kehidupan yang semakin maju, menyebarnya berbagai media sosial yang sangat mudah untuk berkomonikasi degan siapa saja dan dimanapun berada menjadi pemicu terjadinya konflik rumah tangga yang semakin tinggi. Bisa mempertahankan keutuhan rumah tangga sudah menjadi prestasi, apalagi bisa membina mejadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Sudah saatnya setiap anggota keluarga untuk bermuhasabah da instrospeksi, apakah sudah berjalan pada koridor yang diinginkan oleh Allah dalam menjalakan kehidupan berrumah tangga ataukah belum. Karena memang hanya islamlah yang akan menjadikan keluarga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah.

Harta yang banyak, kedudukan yang tinggi dan tercukupi setiap kebutuhan anggota keluarga tidak mejamin keutuhan sebuah rumah tangga. Tetapi dengan pemahaman yang baik akan islam dan berusahanya setiap anggota keluarga untuk menerapkannya dalam kehidupan akan menjadikan keluarga tersebut diridhai Allah ta’ala.

Arti keluarga sakinah mawaddah warahmah

Sakinah menurut bahasa adalah kedamaian, ketentraman, ketenangan dan kebahagiaan. Imam Ibnu katsir memaknai dengan; saling mengikat hati, condong kepadanya dan tentram dengannya.

Sedangkan mawaddah secara bahasa adalah cinta. Yaitu saling mencintai dalam kondisi senang maupun susah. Saling memberi dan menerima, mengingatkan dalam kebaikan, selalu berkomonikasi dan terbuka.

Sedangkan rahmah adalah kasih sayang. Sikap saling menjaga, melindungi, saling membantu dan yang lainya adalah bentuk dari kasing sayang. Jadi, keluarga yang sakinah mawaddah warahmah adalah keluarga yang tetram, saling mencintai dan menyayangi.

Tips membentuk keluarga samara

Ada orang yang berkata, “Seandainya di dunia ini ada surga, surga itu adalah pernikahan yang sukses. Seandainya di dunia ini ada neraka, neraka itu adalah pernikahan yang gagal.” Dan ternyata para psikolog telah bersepakat, pernikahan yang gagal menempati rangking tertinggi sebagai pemicu stress, lebih-lebih di era global sekarang ini.

Ada empat prinsip yang harus dimiliki agar keluarga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Pertama, prinsip dalam memilih jodoh. Pemilihan pasangan yang tepat sangatlah penting dalam membina keluarga samara ( sakinah mawaddah warahma ). Pilihan karena kecantikan atu karena harta yang banyak, keturunan tokoh dan yang lainnya menjadi pertimbangan nomor dua setelah pertimbangan agamanya. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda ;

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar, pertama, jangan menikahi wanita-wanita musyrik. Nikah beda agama, nikah beda akidah, menurut pandangan Allah dan Rasul-Nya, hukumnya haram. Kedua, jangan menikahi wanita-wanita yang memliki hubungan keturunan, yang masih mahram, dengan kalkulasi menyelamatkan warisan. Ini sama sekali tidak diizinkan Allah dan Rasul-Nya. Yang ketiga, jangan menikahi wanita-wanita pezina. Dan keempat jangan menikahi wanita yang jelas-jelas rusak akhlak atau agamanya. Bila prinsip dipegangi, Insya Allah akan terbentuk keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Prinsip kedua adalah saling memberi, melengkapi, menyempurnakan. Allah berfirman: “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka..” (Qs. Al-Baqarah : 187). Ayat ini memberi isyarat, tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada manusia hebat dalam segala bidang.  Untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, kedua pasangan harus bisa saling melengkapi, saling menerima, saling memberi. Tidak sebaliknya, saling menjatuhkan. Jika ada kekurangan di pihak suami, si istri harus menyempurnakan. Kalau ada kelemahan dari pihak istri, suami harus bisa menerimanya. Jika prinsip yang kedua ini dijadikan sebagai panglima dalam rumah tangga, maka seseorang telah mempunyai dua point untuk bisa mengibarkan bendera kesuksesan rumah tangga.

Ketiga, prinsip mawaddah wa rahmah. Mawaddah adalah cinta kasih dan rahmah adalah kasih sayang. Prinsip ini diberikan Allah hanya kepada manusia, tidak kepada tumbuhan-tumbuhan, hewan, dan makhluk-makhluk lainnya.

Mawaddah wa rahmah ini bisa hadir apabila pasangan suami-istri memiliki sikap yang sama, yaitu ikhlas. Kedua pasangan sama-sama punya keinginan dan kemauan untuk saling membahagiakan. Sebab, rasa cinta dan kasih sayang adalah sebuah sharing, sikap untuk saling mau berbagi. Mawaddah wa rahmah bisa hadir pada situasi saling memberi bukan saling mengambil, melihat sisi positif bukan sisi negatif.

Keempat, Mu`asyarah bil Ma`ruf, memperlakukan istri dengan baik dan sopan. Ada sebuah perkataan bijak, “Memimpin sebuah negara masih lebih mudah daripada memimpin sebuah rumah tangga.” Apabila seorang suami memperlakukan istrinya dengan keras dan kasar, maka ia akan putus. Apabila terlalu manja dalam memperlakukan istri, ia akan bengkok. Pandai-pandailah dalam membimbing istri. Banyak orang sukses dalam memimpin organisasi; banyak orang sukses dalam melakukan berbisnis, namun ia gagal dalam memimpin rumah tangga.

Hidup ini memang sulit. Hanya orang-orang bodohlah yang mengharapkan hidup ini mudah, tanpa kerja dan usaha. Dalam mewujudkan rumah tangga bahagia, sakinah, mawaddah wa rahmah, tentunya tidak cukup hanya mengedepankan argument dan kata-kata mutiara. Akan tetapi, butuh penerapan nyata dalam praktek kehidupan sehari-hari.

Untuk itulah hal pertama dalam mewujudkan keempat prinsip di atas, usahakanlah suami mampu tampil sebagai imam yang cerdas menyelaraskan antara ucapan dan perbuatan. Suami yang cerdas adalah suami yang mampu mendidik karena mendidik beda dengan mengajar. Ia harus punya kapasitas keilmuan, istiqamah dalam iman, istiqamah dalam tauhid, istiqamah dalam amaliyah, dan mampu menciptakan rumah tangga islami.

Cara kedua untuk mewujudkan rumah tangga yang bahagia, diperlukan kerja sama. Saling memberi, melengkapi, menyempurnakan, di dalam praktek kehidupan sehari-hari. Laksanakan perintah-perintah Allah, dahulukan panggilan-panggilan Allah, daripada panggilan-panggilan selain Allah, usahakan kedua suami-istri memakan rezeki yang halal, sehingga ketenangan dan kedamaian akan terwujud menjadi kenyataan.

Begitulah tips membentuk keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Anak anak yang shalih dan shalihah, istri yang taat pada Allah ta’ala dan juga suami memang menjadi dambaan setiap orang. Usaha dan do’a harus terus dilakukan, karena memang hidayah hanya milik Nya. Semoga keluarga kita di dunia menjadi keluarga samara sehingga tetap menjadi keluarga kita di akhirat anti.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Stay Connected

3,300FansSuka
158PengikutMengikuti
1,470PelangganBerlangganan

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here